LAPORAN LENGKAP
PRAKTIKUM TERPADU
PENGUJIAN PADA TUAK NIPA
DISUSUN OLEH :
IKNUL IKBAR
EKA NUR AFIAH
IVC
SEKOLAH
MENENGAH KEJURUAN-SMAK MAKASSAR
2013
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya
lah kami dapat menyelesaikan laporan Praktikum Terpadu ini sebatas pengetahuan
dan kemampuan yang dimiliki. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Maria Lery
S.Si M.Si selaku pembimbing praktikum kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pengertian, prinsip kerja penelitian suatu Tuak Nipa. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pengertian, prinsip kerja penelitian suatu Tuak Nipa. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Makassar, Desember 2013
Penyusun
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata pengantar
Daftar isi
BAB I : Pendahuluan
1. Latar
Belakang
2. Maksud
dan tujuan
BAB II : Tinjauan pustaka
1.
Tuak nipah/kelapa
2. Penetapan
kadar air
3. Penetapan
kadar alkohol
4. Penetapan
kadar kotoran
5. Penetapan
kadar gula
BAB III : Metode analisa
1. Alat
dan bahan
2. Prosedur
BAB IV : Pengolahan
Data
1.
Penentuan total air pada tuak nipa
2.
Penentuan pH
3.
Penentuan total asam tertitrasi
4.
Penentuan kadar gula
5.
Analisa kualitatif adanya alcohol pada
sampel
BAB V : PEMBAHASAN
BAB VI : KESIMPULAN DAN
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB
I
PENDAHULUAN
a.
Latar Belakang
Nipah adalah sejenis palem yang tumbuh di
lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut dekat tepi laut. Palma ini umum ditemukan di sepanjang garis
pesisir Samudera Hindia hingga Samudera Pasifik, khususnya di
antara Bangladesh hingga pulau-pulau di Pasifik. batang pohon nipah
menjalar di tanah, membentuk rimpang yang terendam oleh lumpur.
Hanya roset daunnya yang muncul di atas tanah, sehingga nipah nampak
seolah-olah tak berbatang. Akar serabutnya dapat mencapai panjang 13 m. Karena
perakaran nipah ini hanya terletak dalam lumpur yang sifatnya labil maka
rumpun-rumpun nipah dapat dihanyutkan oleh air sampai ke laut. Batang nipah
terendam oleh lumpur. Hanya daunnya yang muncul di atas tanah. Nipah hanya
tumbuh di daerah payau, artinya tanaman ini tidak akan tumbuh jika tanahnya
hanya diluapi oleh air asin atau hanya diluapai oleh air tawar.
Daun nipah yang telah tua banyak dimanfaatkan secara tradisional untuk
membuat atap rumah yang daya tahannya mencapai 3-5 tahun. Daun nipah yang masih
muda mirip janur kelapa, dapat dianyam untuk membuat dinding rumah. Di Sumatra, pada masa silam daun nipah yang muda
(dinamai pucuk) dijadikan daun rokok. Nipah dapat pula disadap niranya, yakni cairan manis yang diperoleh
dari tandan bunga yang belum mekar. Nira yang dikeringkan dengan dimasak
dipasarkan sebagai gula nipah (palm sugar).
Cairan manis yang dikandung nipah
memiliki kadar gula (sucrose) antara 15-17 %-b (P3GI,1995). Dengan kandungan
itu, maka nira nipah berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri
bioetanol. Berbeda dengan tanaman lain yang sama-sama menghasilkan nira atau
pati, tanaman nipah ini jelas menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut
karena pelepah bermayang atau manggar pohon nipah berada tak jauh dari
permukaan tanah sehingga tidak perlu memanjat untuk memperoleh niranya seperti
pada tanaman palma yang lain. Selain itu juga, pohon nipah umumnya tumbuh di
daerah yang tidak produktif untuk budidaya lainnya dan tumbuh didaerah yang
memudahkan pengankutan lewat perairan.
Dan yang paling penting, penggunaan tanaman nipah sebagai
bahan baku bioetanol tidak akan menimbulkan konflik kepentingan seperti tanaman
pangan pada umumnya. Sejauh ini hanya sebgaian kecil saja nira nipah yang
digunakan untuk gula rakyat, sebagian besar tanaman ini memang belum
dimanfaatkan sama sekali. Padahal, tanaman ini amat sangat melipnah di
Indonesia karena tanaman ini umumnya tumbuh di pantai dan negara kita adalah
salah satu negara dengan garis pantai terluas di dunia. Nipah merupakan salah
satu spesies utama penyusun hutan mangrove dengan komposisi sekitar 30 %. Saat
ini, Luas hutan mangrove Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar dan
merupakan mangrove terluas di dunia melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1
juta ha) dan Australia (0,97 ha). Dengan mengambil 30 % hutan mangrove sebagai
hutan nipah, maka diperkirakan terdapat
sekitar 0,75 -1,35 juta hektar hutan nipah di Indonesia.
• Rata-rata
setiap pelepah nipah menghasilkan nira sebanyak 0,5 L per hari
• Dalam satu
tahun, setiap malay pohon dapat disadap hingga 3 bulan, dengan demikian rata-rata produktivitas tiap malay nipah adalah
sebesar:
=0,5 L/hari x 90 hari = 45 L/th
• Jumlah
pohon nipah yang efektif adalah 3000 pohon per hektar dan semakin rapat maka
pohon nipah tidak akan mengahsilkan mayang. Dalam suatu lahan pun biasanya
tidak 100% pohon nipah menghasilkan mayang, biasanya sekitar 40 % saja, dengan
demikian, nira yang dihasilkan:
= 40% x 3000 x 45 L = 54.000 L/ha/th
• Jika
seandainya nira tersebut dimanfaatkan untuk produksi bioetanol, maka
kemungkinan kadar alkohol yang dihasilkan adalah 6-7%, walaupun ada beberapa
mikroba yang tahan hingga 9%-vol dan secara teoritik bisa menhasilkan hingga 13
%-vol, tetapi yang paling memungkinkan adalah 6-7%-vol. dengan demikian:
= 54.000 x 7% x 100/95 = 3978 L ≈ 4000 L/ha/th
• Dengan luas
sekitar 0,75-1,35 juta hektar hutan nipah di Indonesia, maka Negara kita
berpotensi mengahsilkan bioetanol sebesar:
= 4000 L/ha x 0,75 juta ha = 3000 juta Liter = 3 juta kL
sungguh angka yang fantastis! Namun harus diingat bahwa hal
itu bisa dicapai bila hutan nipah di Indonesia dikelola dengan baik. Saat ini
saja kebanyakan warga yang tinggal disekitar pesisir masih belum faham mengenai
teknik penyadapan nira nipah yang benar. Bahakan lebih parah lagi, mereka pun
sebetulnya belum tahu jika nipah bisa menghasilkan nira yang ternyata bisa
dimanfaatkan. Sementara di Negara tetangga kita ,Malaysia, pemanfaatan nira
nipah sudah sangat gencar dilakukan. Bahkan mereka menobatkan diri sebagai negara
pertama di dunia yang memproduksi bietanol dari nipah secara komersial. Dan
dalam waktu dekat akan segera mematenkan alur produksi bioetanol dari nipah.
B.
MAKSUD DAN TUJUAN
MAKSUD
Penggunaan tanaman nipah sebagai bahan baku
bioetanol tidak akan menimbulkan konflik kepentingan seperti tanaman pangan
pada umumnya. Sejauh ini hanya sebgaian kecil saja nira nipah yang digunakan
untuk gula rakyat, sebagian besar tanaman ini memang belum dimanfaatkan sama
sekali. Padahal, tanaman ini amat sangat melipnah di Indonesia karena tanaman
ini umumnya
TUJUAN
Kami berdua ingin menganalisa sampel tuak nira berdasarkan parameter :
1.
Kadar alkohol
2.
pH
3.
Total asam titrasi
4.
Total solid padatan
5.
Kadar gula
Dengan tujuan apakah tuak nira
benar-benar dikelolah dengan baik dimasyarakat tradisional berdasarkan
parameter diatas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nira
adalah cairan yang disadap dari bunga jantan pohon aren. Cairan ini mengandung
gula antara 10-15%. Nira dapat diolah menjadi minuman ringan, maupun
beralkohol, sirup aren, gula aren dan nata de arenga. Penyadapan aren tidak
sulit dilakukan (Tarwiyah et all,2001).
Nira
merupakan cairan manis yang terdapat di dalam bunga tanaman aren, kelapa dan
lontar yang pucuknya belum membuka dan diperoleh dengan cara penyadapan. Nira
diperoleh dengan menyadap mayang yang belum membuka. Satu buah mayang dapat
disadap selama 10-35 hari. Hasil yang diperoleh adalah 0,5-1 liter nira setiap
mayang (Suhardiyono, 1988).
Nira
yang baik bercirikan masih segar, rasa manis, harum, tidak berwarna dan derajat
keasaman (pH)nya antara 6,0 – 7,0. Nira yang jelek pHnya >6,0 dan bila
digunakan, mutu gulanya akan ikut jelek (Deptan,1993). Nira yang kurang baik
mudah menjadi basi, aroma dan rasanya kecut, dan akan menghasilkan gula kelapa
yang mudah lengket. Sedangkan nira kelapa yang berkualitas baik dan masih segar
mempunyai rasa manis, berbau harum, tidak berwarna (bening), derajad keasaman
(pH) berkisar 6-7, dan kandungan gula reduksinya relatif rendah (Al aziz,
2011).
Nira
kelapa terdiri dari sakarosa sekitar 13 – 17%, protein 0,02 – 0,03%, air
75-90%, lainnya adalah bahan organik seperti karbohidrat, asam amino, zat warna
dan lemak serta garam mineral. Getah kelapa mengandung sejumlah kecil
garam-garam mineral dan vitamin, antara lain asam askorbat sebesar 16-30 mg/10
ml getah kelapa (Astuti,2010).
Nira
yang masih segar adalah jernih, hampir tidak berwarna dan sangat manis. Menurut
Gibbs, ciri-ciri nira dapat dinyatakan sebagai berikut :
|
Ciri-ciri nira
|
Nilai rata-rata per100 gram
|
|
density
|
1,07
|
|
Bahan
Padat
|
17,5
|
|
Keasaman
|
Sangat sedikit
|
|
Abu
|
0,4
|
|
Sukrosa
|
16,5
|
|
Gula invert
|
Sedikit
sekali
|
|
Senyawa
Nitrogen
|
0,60
|
(Suhardiyono,1988)
Nira
adalah cairan yang keluar dari bunga kelapa atau pohon penghasil nira lain
seperti aren, siwalan dan lontar yang disadap. Dalam proses penyadapan, nira
memerlukan penanganan, sebelum maupun sesudah penyadapan karena mengandung kadar gula tertentu dan
merupakan media mikroorganisme
seperti bakteri, kapang maupun khamir (Meylani,Tanti,dkk,2011).
Kerusakan
nira terjadi pada saat dimulainya nira tersebut ditampung pada bumbung atau
pada waktu nira tersebut disadap dari pohon dan pada waktu nira disimpan untuk
menunggu waktu pengolahan, walaupun cairan yang ke luar dari bunga steril. beberapa waktu akan terjadi proses
fermentasi sukrosa dalam nira oleh mikroorganisme dirubah menjadi alkohol dan
lama kelamaan menjadi asam (Astuti,2010).
Perubahan
yang dapat terjadi dari gula di dalam nira karena aktivitas mikroorganisme
adalah sebagai berikut :
Pada
nira reaksi pertama terjadi inversi sukrosa bila terdapat asam atau enzim di
dalam nira. Pada reaksi yang kedua glukosa dan fruktosa hasil inversi
difermentasi menjadi etanol, dan pada reaksi ketiga terjadi oksidasi etanol
oleh bakteri A. Aceti menjadi asam asetat.
terjadi
karena sukrosa terhidrolisa menjadi D-glukosa dan D-fruktosa, hal ini
disebabkan oleh aktivitas enzim fruktoforanosidase (-h-fruktosidase, invertase)
yang dihasilkan mikroba. Jika terjadi fermentasi lanjut maka kadar gula akan
menurun, kadar alkohol meningkat kemudian terjadi peningkatan kadar asam
sehingga pH berkecenderungan untuk menurun (Handayani,2008).
Nira
yang sudah terfermentasi menghasilkan toddy wine atau palm wine yang di
Indonesia popular disebut “tuak”. Mikroba yang terdapat pada nira adalah khamir
dan bakteri. Khamir yang terdapat dalam jumlah besar pada tuak adalah
Saccharomyces cerevisiae, sedangkan bakteri yang ditemukan pada tuak tersebut
adalah bakteri-bakteri dari genus Lactobacillus, Acetobacter, Sarcin,
Streptococcus, Leuconostoc, Brevibacterium, Eymomonsa, Bacillus, Corynebacterium, Pediococcus dan
Klebsiella. Tipe khamir yang tumbuh pada nira tergantung pada jenis khamir yang
dominan dan suhu nira yang bersangkutan (Handayani,2008). Reaksi yang terjadi
pada waktu fermentasi adalah sebagai berikut :
C12H22O11+ H2O C6H12O6+
C6H12O6
(sukrosa) (air)
(glukosa)
Saccharomyces
4
C2H5OH+CO2 2 C6H12O6
(etil
alkohol)
Acetobacter
4
C2H5OH+4O2 4 CH3COOH+4H2O
(asamasetat)
Untuk
perubahan dari sukrosa sampai alkohol terlibat kegiatan ragi, dari alkohol ke
asam terlibat
asetat kegiatan bakteri dan berupa cuka hasilnya membutuhkan
alkohol, sehingga alkohol yang diperoleh
menjadi berkurang. Untuk memperoleh maka
harus dilakukan proses dikehendaki
produk yang mikroorganisme.
Jika produk yang dikehendaki adalah mikroorganisme
harus dihentikan. Cara yang sering dilakukan menghentikan
kegiatan mikroorganisme ini adalah dengan penambahan kapur atau asam benzoat.
Penambahan asam benzoat dengan konsentrasi 0,2% dapat menghambat fermentasi
yang dilakukan baik oleh ragi maupun bakteri. (Grimwood,1961).
Tingkat
kejernihan pada bahan pemanis oleh
jumlah kotoran dan kekeruhannya. (Winarno, 2004). Protein atau pektin bereaksi
dengan yang koloid polifenol membentuk menghilangkan kekeruhan Untuk dapat
dipakai purifikasi bertujuan untuk menghilangkan
atau membuang bahan organik dan anorganik dalam bahan (Meylani, Tanti, dkk,
2011). Penjernihan dapat dilakukan dengan mengunggunakn larutan kapur. Setelah
diberi kapur, nira dipanaskan sampai kira-kira 50-60 C. pada suhu demikian,
semua kotoran akan terpisah (anonim, 1992).
Nira
yang sudah dibebaskan dari kotoran berwarna kuning muda dan jernih. Nira ini
dipanaskan secara terus menerus. Semakin kental nira yang dimasak, warnanya
semakin kuning dan buihnya semakin rendah. Setelah nira berwarna merah cokelat,
dan masakan nira sudah banyak susutnya maka nira yang diangkat dan siap untuk
dicetak (Anonim, 1992).
PENETAPAN KADAR AIR
Ada beberapa
macam metode penetapan kadar air, tergantung keadaan dan sifat contoh yang akan
ditetapkan.
a) Kadar
Air metode langsung
Dipakai untuk
menetapkan kadar air dari zat yang tidak mudah rusak atau menguap pada suhu
100̊ c - 105̊ c.
b) Metode penyulingan dengan pelarut
yang tidak dapat campur
Metode ini lebih
dikenal dengan metode Xylol (ksilena). Metode ini dapat dilakukan dengan cepat dan cukup efisien untuk kadar air
walau jumlahnya relative sedikit . cara xylol ini sangat penting terutama untuk
contoh – contoh yang mengandung air dan minyak terbang (volatile oils) dimana
keduanya dapat menguap. Pada penetapan
ini dipakai alat yang disebut Aufhauser,
atau alat penerima Bidwel dan Stirling, dilengkapi dengan labu pendingin
leibig.
PENETAPAN KADAR ALKOHOL
Alkohol (etanol) adalah cairan transparan, tidak
berwarna, cairan yang mudah bergerak, mudah menguap, dapat bercampur dengan air,
eter, dan kloroform, diperoleh melalui fermentasi karbohidrat dari ragi.
Alkohol biasanya diartikan sebagai etil alkohol (CH3CH2OH/ C2H5OH), mempunyai densitas 0,78506 g/ml pada
25°C, titik didih yaitu 78,4°C, tidak berwarna, dan mempunyai bau serta rasa
yang spesifik. Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol
murni, alkohol absolut, atau alkohol saja, adalah sejenis
cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol
yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini
merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman
beralkohol dan termometer modern. Etanol adalah salah satu obat rekreasi yang
paling tua.
Etanol
dapat diproduksi secara petrokimia melalui hidrasi etilena ataupun secara biologis melalaui fermentasigula dengan ragi. Etanol untuk kegunaan konsumsi manusia (seperti minuman beralkohol) dan kegunaan bahan bakar diproduksi dengan cara
fermentasi. Spesies ragi tertentu (misalnya Saccharomyces cerevisiae) mencernagula dan menghasilkan etanol dan karbon dioksida:
Proses membiakkan ragi untuk
mendapatkan alkohol disebut sebagai fermentasi. Konsentrasi
etanol yang tinggi akan beracun bagi ragi. Pada jenis ragi yang paling toleran
terhadap etanol, ragi tersebut hanya dapat bertahan pada lingkungan 15% etanol
berdasarkan volume.
Fermentasi adalah
proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen).
Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan
tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi
sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron
eksternal.
Alkohol juga terjadi dalam proses
peragian beras ketan yang menghasilkan produk tape. Ketan (atau beras ketan),
berwarna hitam, tidak
transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin. Proses
pembuatan tape ketan melibatkan peran mikroba dalam bentuk ragi. Ragi adalah
suatu inokulum padat yang mengandung berbagai jenis kapang, khamir, dan bakteri
yang berfungsi sebagai starter dalam fermentasi tape. Ragi juga dapat diartikan
sebagai zat pembentuk kalor atau panas yang terjadi pada pembuatan tape, karena
diolah dari bahan-bahan yang mengandung panas atau setidak-tidaknya dapat
menimbulkan panas pada tubuh makhluk hidup.
PENETAPAN KADAR GULA
Gula adalah suatu istilah umum yang sering diartikan bagi setiap karbohidrat
yang digunakan sebagai pemanis, tetapi dalam industri pangan biasanya
digunakan untuk menyatakan sukrosa (gula pasir), gula yang diperoleh dari bit
atau tebu. Gula merupakan
karbohidrat dalam bentuk monosakarida dan disakarida.
1. Monosakarida
Gula monosakarida yang umumnya
terdapat dalam pangan mengandung enam atom karbon dan mempunyai rumus umum C6H12O6.
Tiga senyawa gula monosakarida yang penting antara lain:
a. Glukosa
Glukosa memiliki tingkat rasa manis hanya 0,74 kali tingkat
manis sukrosa. lukosa juga dikenal sebagai D-glukosa, Dextrosa, Glucolin,
Dextropur, Dextrosol, gula darah, gula anggur dan gula sirup jagung. Terdapat
luas dalam keadaan tak terikat dengan senyawa lain dalam buah dan bagian
tanaman lain. Dapat terikat dalam senyawa glukosida dan dalam disakarida dan
oligisakarida, dalam selulosa dan pati (polisakarida) dan dalam glikogen.
Dibuat secara komersial dari pati berbagai tanaman.
b. Fruktosa
Juga dikenal sebagai levulosa, senyawa ini secara kimiawi
mirip glukosa kecuali susunan atom-atom dalam molekulnya sedikit berbeda.
Fruktosa banyak terdapat dalam buah-buahan, madu. Fruktosa dapat dibentuk dari
sirup hasil hidrolisa inulin (gula dari umbi tanaman bunga Dahlia)
secara asam yang kemudian ditambah alkohol absolut. Dapat juga dibentuk secara
isomerasi glukosa (dengan enzim isomerase) atau dari sukrosa secara
enzimatis (enzim invertase). Fruktosa merupakan senyawa jenis gula yang
paling manis (1,12 kali lebih manis daripada sukrosa) dan sering digunakan
untuk mencegah rasa berpasir (sandiness) es krim. Labih mudah larut dalam air
daripada glukosa. Satu gram fruktosa dapat larut dalam 15 ml alcohol atau dalam
14 ml methanol. Juga larut dalam aseton, piridin, etilamin, dan metilamin.
2. Disakarida
Gula-gula disakarida mempunyai rumus umum C12H22O11.
Senyawa-senyawa ini terbentuk jika dua molekul monosakarida bergabung dengan
melepaskan satu molekul air, seperti terlihat pada reaksi di bawah ini :
C6H12O6
+ C6H12O6 Ã
C12H22O11 + H2O
monosakarida
monosakarida
disakarida air
Macam-macam disakarida:
a.
Sukrosa
Senyawa ini adalah yang dikenal
sehari-hari dalam rumah tangga sebagai gula dan dihasilkan dalam tanaman dengan
jalan mengkondensasikan glukosa dan fruktosa. Sukrosa didapatkan dalam sayuran
dan buah-buahan, beberapa diantaranya seperti tebu dan bit gula mengandung
sukrosa dalam jumlah yang relatif besar. Dari tebu dan bit gula itulah gula
diekstraksi secara komersial. Madu lebah mengandung sebagian besar sukrosa dan
hasil hidrolisisnya. Sukrosa dapat mengalami hidrolisa dalam larutan asam encer
atau oleh enzim invertase menjadi glukosa dan fruktosa. Selama
hidrolisa putaran optis menurun dan yang mula-mula positif berubah menjadi
negatif setelah menjadi hidrolisa sempurna. Campuran glukosa dan fruktosa
disebut “gula invert” dan perubahannya disebut proses inverse.
b.
Laktosa
Gula ini dibentuk dengan proses
kondensasi glukosa dan galaktosa. Senyawa ini didapatkan hanya pada susu, dan
menjadi satu-satunya karbohidrat dalam susu.
c.
Maltosa
Molekul maltosa dibentuk dari hasil
kondensasi dua molekul glukosa. Selama perkecambahan biji “barley”, pati
diuraikan menjadi maltosa. “Malt” ingredien amat penting dalam pembuatan bir,
dihasilkan pada proses ini.
Hidrolisis
sukrosa juga dikenal sebagai inversi sukrosa dan hasilnya yang berupa campuran
glukosa dan fruktosa disebut “gula invert”, inversi dapat dilakukan baik dengan
memanaskan sukrosa bersama asam atau dengan menambahkan enzim invertase.
Sejumlah kecil gula invert yang ditambahkan pada sukrosa akan mengurangi
kecenderungannya untuk mengikat selama sukrosa didihkan. Semua monosakarida dan
disakarida yang telah disebut, kecuali sukrosa, dapat berperan sebagai agensia
pereduksi dan karenanya dikenal sebagai gula reduksi. Kemampuan senyawa-senyawa
gula mereduksi agensia pengoksidasi mendasari berbagai cara pengujian untuk glukosa
dan gula-gula reduksi lainnya. Kandungan senyawa gula pada tiap-tiap bahan
tersebut berbeda-beda, sehingga praktikum ini diadakan untuk mengetahui
kandungan gula pada gula-gula tersebut baik gula reduksi maupun gula totalnya.
Penentuan Gula Total dan Gula Reduksi
Gula total
merupakan campuran gula reduksi dan non reduksi yang merupakan hasil hidrolisa
pati. Semua monosakarida dan disakarida, kecuali sukrosa berperan sebagi
agensia pereduksi dan karenanya dikenal sebagai gula reduksi. Kemampuan senyawa-senyawa
gula mereduksi agensia pengoksidasi mendasari berbagai cara pengujian untuk
glukosa dan gula-gula reduksi lainnya.
Menurut
SNI 01-2892-1992, cara uji gula, ada beberapa metode cara uji pada gula yaitu :
a.
Metode Luff Schoorl
b.
Metode Lane Eynon
Pada
proposal ini metode yang digunakan adalah metode Luff Schoorl. Dipilih metode
ini karena sangat menguntungkan dalam menganalisa gula nabati yang termasuk
sukrosa yang merupakan rasa manis dasar sakarosa adalah disakarida , yang
apabila direduksi akan menghasilkan monosakarida yang bersifat pereduksi.
Monosakarida tersebut akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O.
Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2.
I2 yang dibebaskan tersebut dititar dengan larutan Na2S2O3.
Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena
kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan
kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2)
bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal NaOCl) dalam
larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida
berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2
yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator. I2 bebas
ini selanjutnya akan dititar dengan larutan standar natrium thiosulfat sehinga
I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air.
Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahannya
sebelum titik ekivalen.
Pada prinsipnya, iodometri merupakan
reaksi reduksi oksidasi karena terjadi perubahan bilangan oksidasi (biloks)
dari zat-zat yang terlibat dalam reaksi, dalam hal ini transfer electron dari
pasangan pereduksi ke pasangan pengoksidasi. Oksidasi adalah pelepasan satu
atau lebih elektron dari suatu atom, ion atau molekul. Sedangkan reduksi adalah
penangkapan satu atau lebih elektron. Tidak ada dalam elektron bebas dalam
sistem kimia, oleh karena itu pelepasan elektron (oksidasi) selalu diikuti
penangkapan elektron (reduksi).
Indikator
Pada
iodometri titrasi selalu berkaitan dengan I2, meskipun warna I2
berbeda dengan I2, secara teoritis untuk titrasi ini tidak
memerlukan indikator, tapi karena warnanya dalam keadaan sangat lemah maka pada
titrasi ini diperlikan indikator. Indikator yang digunakan adalah indikator
amilum dan I2 akan bereaksi dan reaksinya adalah reaksi dapat balik.
BAB III
METODE ANALISA
ALAT DAN BAHAN
ALAT :
·
NERACA ANALITIK
·
ERLENMEYER ASAH
·
PIPET VOLUME
·
GELAS PIALA
·
GELAS UKUR
·
DESTILATOR
·
HOTPLATE
·
OVEN
·
CORONG
·
KAKI TIGA
·
PENGADUK
·
BURET
·
PETRIDISH
·
TERMOMETER
·
EKSIKATOR
·
LABU DESTILAT
·
LABU UKUR
BAHAN :
·
SAMPEL TUAK NIRA
·
Pb asetat setengah basa
·
Na2HPO4 10%
·
KI 20%
·
H2SO4 25%
·
LARUTAN STANDAR TIO 0,1 N
·
LARUTAN LUFF
·
INDIKATOR AMILUM
·
HCl 3%
·
INDIKATOR PP
·
NaOH 3,25 %
·
KI 30 %
·
H2SO4 1,25 %
·
AQUADEST
·
KERTAS SARING
·
KERTAS pH UNIVERSAL
·
LARUTAN K2Cr2O7 1%
·
LARUTAN NaOH 1N
PROSEDUR
·
PENETAPAN
KADAR AIR
Timbang 2 gram sampel kedalam petridish
yang diketahui bobot kosongnya. Kemudian diuapkan pada oven 105oc selama 2 jam. Dinginkan kemudian timbang
hingga mendapatkan bobot tetapnya.
·
Penentuan pH
Pipet 10 ml sampel nira kedalam gelas piala 100 ml. pH
meter atau kisaran pH-nya ditetapkan dengan menggunakan kertas pH universal.
·
Penentuan kadar
alkohol secara kualitatif
1. pipet 100 ml sampel larutan nira kedalam labu destilasi
2. kemudian dipanaskan sampai mendidih dengan rentang waktu
30 menit
3. tampung
4. Filtrat
ditambahkan K2Cr2O7 dan diasamkan dengan H2SO4
pekat
5. Kandungan
alcohol yang baikakan menunjukkan perubahan warna hijau keruh pada tabung
reaksi
·
PENETAPAN
KADAR GULA
Ditimbang
10- 15 g contoh . dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml . tepatkan sampai tanda
garislalu disaring dengan kertas saring berlipat kering (untuk memisahkan
bagian buah bila ada ). Dipipet 50 ml saringan , dimasukkan ke dalam labu ukur
250 ml . tambahkan ke dalamnya10 ml pb-
asetat setengah basa (berlebih) . setelah dikocok, ujilah dengan meneteskan
larutan Na2HPO4 10% . bila telah cukupkelebihan
Pb-asetat diendapkan sempurna dengan ammonium hydrogen phosphate (15 ml) lalu ditetapkan sasmpai tanda garis .
dikocok dan disimpan dalam lemari pendingin 30 menit ( sampai endapan telh
turun semua ) baru disaring. Saringan
dipakai sebagai larutan induk untuk penetapan.
A. Kadar
gula sebelum inversi (gula pereduksi)
Dipipet 10 ml larutan induk ke dalam
Erlenmeyer asah barbatu didih. Ditambah 25 ml (pipet) larutan luff dan 15 ml air
(jumlah cairan 50 ml) kemudian dipasang pendingin tegak dan pemanasan 3 menit .
cairan harus mulai mendidih , dinginkan (jangan dikocok). Ditambahkan 10 ml –
15 ml berlebih larutan KI 20% dan 25 ml H2SO4 25% . dititar dengan larutan tio
0,1 N sampai berwarna kuning. Tambah indicator amilum dan titar lagi hingga berwarna putih susu. Dilakukan
penetapan blangko dengan 25 ml air dan 25 ml larutan luff.
B. Kadar
gula sesudah inversi
Dipipet 50 ml larutan induk ke
dalam labu ukur 100ml . Ditambahkan ke dalamnya 5 ml HCL 25 % kemudian labu
dimasukkan kedalam penangas air dipanaskan pada suhu 68- 70 O c . diinversi
selama 10 menit , setelah diangkat dan didinginkan dinetralkan dengan NaOH 30%
(menggunakan indicator pp) dan diimpitkan . pipet 10 ml kedalam Erlenmeyer asah
selanjutnya ditetapkan dengan cara luff. Dilakukan penetapan blanko.
·
Total
asam tertitrasi
Nira yang telah disaring 20 ml dititrasi dengan
larutan NaOH 0,1 N dengan indikator PP 1% Total asam tertitrasi dinyatakan
sebagai ml NaOH 0,1 N/ml nira
BAB IV
PENGOLAHAN DATA
1.
PENENTUAN
TOTAL AIR PADA TUAK NIPA
REAKSI :
sampel→sampel
+ H2O↑
2H2O→2H2+O2
DATA PENIMBANGAN
·
Bobot petri + kertas saring =
39,2760 gram
·
Bobot petri+kertas saring+sample =
40,6466 gram
·
Bobot setelah pemanasan =39,3493
gram
PERHITUNGAN
%Air
=
=
=
%
=
2.
PENGUKURAN
pH
PENGAMATAN
Kertas pH universal menunjukkan
angka = 4
3.
PENENTUAN
TOTAL ASAM TERTITRASI PADA TUAK NIPA
REAKSI
CH3CH2OH
+ O2 → CH3COOH + H2O
CH3COOH
+ NaOH
CH3COONa
+ H2O
PENGAMATAN
Warna
larutan sebelum penambahan indicator PP =
Putih
Warna
larutan setelah penambahan indicator PP =
Tidak berwarna
Warna
larutan saat titik akhir =
Merah muda
Volume
sampel =
10 mL
PERHITUNGAN
Volume
NaOH 0,1075 N = 4,70 mL
Volume
NaOH 0,1000 N = 5,05 mL
Total asam tertitrasi per milliliter
4.
PENENTUA
KADAR GULA DALAM SAMPEL TUAK NIPA
REAKSI
C12H22O11
+ H2O → 2C6H12O12
C6H12O6
+CuO → Cu2O + C5H11O5-COOH
Sisa CuO +2KI +H2SO4
→ CuI2 +K2SO4+H2O
CuI2↔Cu2I2
+ I2
I2+2Na2S2O3
→ 2NaI + Na2S4O6
PENGAMATAN
Warna
larutan sebelum penambahan indicator amilum =
Cokelat
Warna
larutan saat titik akhir =
Putih susu
DATA PENIMBANGAN
Bobot
labu ukur kosong = 40,1742 gram
Bobot labu + sampel = 51,0510 gram
PERHITUNGAN
·
Kadar gula sebelum inversi (gula peraduksi)
Blanko = 24,15
ml
Contoh =
24,15-21,85
= 2,30 ml (Natrium tiosulfat 0,0982 N)
= 2,25 ml(Natrium
tiosulfat 0,1000 N)
Mg sakar = 5,04
mg
% gula pereduksi =
=
=
%
=
2,48 %
·
Kadar gulasesudah inversi (total gula)
Blanko = 25,10 ml
Contoh = 25,10-22,75
= 2,25 ml
(Natrium tiosulfat 0,0982 N)
= 2,30 ml
(Natrium tiosulfat 0,1000 N)
Mg sakar = 5,28 mg
% gula pereduksi =
=
=
=
% Sakarosa = (%sesudah inversi-%sebelum inversi)
0,95
=
(4,85%-2,48%)
0,95
= 2,25%
5.
ANALISA KUALITATIF ALKOHOL PADA SAMPEL TUAK
REAKSI
3CH3CH2OH
+ 2Cr2O72- + 16H+
3CH3COOH
+4Cr3+ + 11H2O
PENGAMATAN
Volume
contoh = 50 ml
|
+ K2Cr2O7
|
|
H2SO4
PEKAT
|
|
Destilat mengandung alcohol dengan kandungan air yang
kecil
|
BAB
V
PEMBAHASAN
·
PENENTUAN KADAR AIR
Kandungan
air semakin besar maka kandungan padatan pada tuak akan semakin kecil,
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil total kandungan
air yaitu 94,65%. Pada praktikum ini galat dapat terjadi oleh berbagai faktor,
yaitu diantaranya adalah ketelitian praktikan menetapkan angka dalam
proses penimbangan dan pemindahan nira dari oven ke desikator juga mempengaruhi,
dikarenakan adanya uap air yang menempel pada cawan atau air bebasnya menguap
dari cawan dan juga cara penghitungan mempengaruhi hasil total padatan yang
diperoleh.
·
PENENTUAN pH
pH nira segar yang baik
adalah pada kisaran 6,0 – 7,0. Pada praktikum ini pH menunjukan bahwa pH tuak
4,0. Hal ini menunjukan tuak tersebut
terfermentasi secara sempurna.
·
PENENTUAN TOTAL
ASAM TERTITRASI
Total
asam tertitrasi adalah jumlah keseluruhan asam yang terkandung di dalam suatu
bahan. Hasil total asam titrasi dalam praktikum ini adalah 0,505/ml.Total asam
terkait dengan pH, semakin banyak NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi maka
semakin rendah pH sample tersebut. Bila pH semakin rendah berarti semakin
banyak pula asam yang terdapat dalam bahan tersebut, sehingga butuh semakin
banyak NaOH untuk menetralkannya.
·
PENENTUAN KADAR
GULA PADA SAMPLE TUAK NIPA
Air
nira mengandung gula dengan konsentrasi 7,5 sampai 20,0 % yang terdapat pada
nira umumnya dianalisa menggunakan alat Refraktometer. Pada praktikum ini tuak
yang telah dianalisa menggunakan metode luff school ternyata mengandung kadar
gula sebesar 2,25% ini berarti tuak tersebut terfermentasi sempurna.
·
ANALISA KUALITATIF ALKOHOL PADA
SAMPLE TUAK
Berdasarkan uji kualitatif dari alkohol yang mengalami reaksi oksidasi reduksi dimana alkohol dioksidasi menjadi aldehid dan dengan pemanasan terbentuk asam
karboksilat, dimana K2Cr2O7 sebagai oksidator mengalami reduksi dari Cr6+ menjadi Cr3+ yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna dari bening menjadi kuning kehijauan dan dengan pemanasan terbentuk larutan biru.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Dari
hasil percobaan uji fisik dan kimia berdasarkan pada kadar air total,pH
larutan,total asam tertitrasi,kadar gula,dan uji kualitatif kandungan alcohol
pada sampel tuak tersebut .Kami simpulkan bahwa sample tuak yang diproduksi
disebuah homeindustri tersebut telah diolah dengan baik.
SARAN
Akan
sangat disayangkan bila potensial dari tuak nipa ini tidak dikelolah dengan
baik.
Berbagai macam manfaat yang dapat
dihasilkan dari tanaman nipa,dimulai dari bioetanol dari tuak nipa,air niranya
yang dapat dibuat gula aren,daun pohon nipa yang dapat dibuat sebagai atap
rumah-rumah tradisional,dan haisl fermentasi dari nira buah nipa yang digunakan
sebagai alat rekreasi bagi warga tradisonal. Akan sangat dibutuhkan sekali
dimasa modern ini, seseorang yang dapat mengelolah potensial dari buah nipa.
DAFTAR PUSTAKA
·
http://arymah.blogspot.com/2012_07_01_archive.html?m=1
LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar